Skip to main content

Perseroan Berhasil Memperoleh kontrak baru senilai Rp 69,97 triliun

Guna mendukung penyediaan infrastruktur strategis yang merata di seluruh tanah air, Perseroan senantiasa bersinergi dengan pemerintah dalam mewujudkan rencana-rencana yang telah disusun. Berikut bentuk realisasi kerja Perseroan yang dipaparkan secara holistik melalui penyajian yang komprehensif.

 



Sejarah pendirian PT Waskita Karya (Persero) Tbk tidak terlepas dari visi Pemerintah Republik Indonesia pada akhir dekade 50an yang menginginkan kemandirian serta kedaulatan Negara dalam mengelola potensi yang dimiliki demi meningkatkan kesejahteraan bangsa. Bentuk upaya tersebut antara lain dengan mengeluarkan kebijakan nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing di Indonesia yang bergerak dalam bidang usaha strategis.

Salah satunya, perusahaan konstruksi Volker Aannemings Maatschapiij N.V milik Belanda yang kemudian dinasionalisasi menjadi PN Waskita Karya pada 1 Januari 1961 dengan status Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dalam menghadapi berbagai tantangan usaha serta perubahan atas peraturan yang berlaku, pada 1973 Perseroan kembali mengalami perubahan dari Perusahaan Negara menjadi Perusahaan Perseroan dan melakukan penggantian nama menjadi PT Waskita Karya (Persero).

Pada tanggal 12 Desember 2012, dimana untuk pertama kalinya Perseroan melakukan pencatatan saham di bursa efek serta melepas kepemilikan saham sebesar lebih dari 30% kepada masyarakat. Dengan melakukan go public, Perseroan kini menjelma menjadi kekuatan baru perusahaan konstruksi nasional dengan dukungan tidak hanya dari pemerintah namun juga masyarakat Indonesia.

Perseroan merupakan perusahaan konstruksi yang juga mengembangkan usaha pada bidang rekayasa, investasi di infrastruktur dan properti/realty. Sebagai BUMN di bidang konstruksi, Perseroan memiliki posisi solid dalam mendapatkan proyek-proyek infrastruktur besar yang direncanakan oleh Pemerintah, seperti proyek Masterplan Percepatan dan Perluas Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), jalan tol, infrastruktur pelabuhan dan bandar udara, pembangkit listrik dan proyek-proyek lainnya.

Sebagai bentuk komitmen Perseroan dalam menciptakan produk yang bermutu tinggi, Perseroan menerapkan standar mutu internasional, diantaranya ISO 14001:2004 (Sistem Manajemen Lingkungan), OHSAS 18001:2007 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja), ISO 9001:2008 (Sistem Manajemen Mutu), serta Sertifikat Audit Sistem Manajemen Pengamanan (Sistem Manajemen Pengamanan Swakarsa).


Pendapatan Usaha sebesar Rp23,788.32 miliar

Pertumbuhan kinerja keuangan Perseroan, didukung atas besarnya perolehan kontrak baru yang diperoleh PT Waskita Karya (Persero) Tbk hingga akhir 2016 senilai Rp 69,97 triliun atau 98,88% dari Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2016 senilai Rp 70,76 triliun.

Total perolehan kontrak baru tersebut meningkat 118,11% dari Rp 32,08 triliun di tahun 2015. Perseroan juga mencatat Pendapatan Usaha sebesar Rp23,788.32 miliar, atau meningkat 68,08% apabiladibandingkan dengan pencapaian tahun 2015. Sedangkan laba bersih 2016 tercatat sebesar Rp1,813.07 miliar, atau tumbuh 73,07% dibandingkan Laba Bersih pada tahun sebelumnya sebesar Rp1,047.59 miliar. Dapat Perseroan sampaikan bahwa total laba bersih tahun 2016 lebih tinggi 11,91% dibanding RKAP 2016.

Aset Perseroan juga membukukukan kenaikan yang signifikan pada tahun 2016 menjadi Rp61,425.18 miliar, atau tumbuh 102,66% dibandingkan dengan Rp30,309.11 miliar pada tahun 2015. Sementara, total Ekuitas Perseroan tumbuh 72,84% menjadi Rp 16,773.22 miliar dari Rp9,704,21 miliar. Sektor jalan tol merupakan sektor yang memberikan konstribusi signifikan bagi pendapatan usaha Perseroan di tahun 2016. Jumlah konsesi yang diusahakan oleh Waskita di tahun ini tercatat sebanyak 15 ruas jalan tol dengan total panjang 750 km.

Kinerja operasional di sektor beton precast pertumbuhan tahun ini juga cukup signifikan, Perseroan di tahun ini menambah 4 (empat) plant yang berlokasi di Subang, Bojanegara dan Gasing sehingga kapasitas produksi beton precast Perseroan mengalami peningkatan sebesar 47,22% menjadi 2.650.000 ton. Penambahan pabrik dilakukan mengingat tingginya permintaan beton precast seiring dengan pertumbuhan proyek-proyek yang didapatkan Perseroan.

Kepercayaan masyarakat pada Perseroan di pasar modal juga mendorong peningkatan kinerja saham Perseroan. di tahun ini, kapitalisasi pasar Perseroan mengalami pertumbuhan sebesar 52,69% dibandingkan tahun sebelumnya. Laba per saham Perseroan mengalami kenaikan sebesar 63,52% dari Rp90,10 perolehan 2015 menjadi  Rp147,48 di tahun 2016. (sumber annual report PT Waskita Karya (Persero) Tbk 2016/Foto: Istimewa)

Comments

Popular posts from this blog

Ini Dia BUMN yang Diamanatkan UU Nomor 7 Tahun 2011

BUMN ini selalu berkaitan dengan “Empat huruf” atau biasa disebut dengan UANG . Justcoffeecopy akan memberikan sedikit informasi mengenai BUMN ini. Semoga tulisan ini bisa menghilangkan dahaga penasaran Anda!   Peruri merupakan satu-satunya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mendapat kepercayaan dari Pemerintah Republik Indonesia untuk melaksanakan pencetakan uang rupiah, baik uang kertas maupun uang logam, sebagaimana diamanatkan oleh Undang Undang (UU) Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. Didirikan pada 15 September 1971, Peruri merupakan gabungan dari 2 (dua) Perusahaan Negara (PN), yaitu PN Pertjetakan Kebajoran dan PN Artha Yasa, berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 60 Tahun 1971, selanjutnya diubah dengan PP Nomor 25 Tahun 1982, kemudian diubah kembali dengan PP Nomor 34 Tahun 2000 dan perubahan terakhir melalui PP Nomor 32 Tahun 2006. Kementerian Badan Usaha Milik Negara Republik Indonesia merupakan pihak pemilik modal yang menyetujui arah sasaran, strategi

Bank Ini Memiliki Tujuan Tunggal

Sejak 1 Juli 1953, bangsa Indonesia memiliki sebuah bank sentral dengan nama Bank Indonesia. Sekilas mengenai Bank  Sentral Republik Indonesia yang berwenang menetapkan peraturan hukum pelaksana Undang Undang yang mengikat seluruh masyarakat luas, sesuai tugas dan wewenangnya.   Sejarah Bank Indonesia dimulai dari pendirian De Javasche Bank N.V. oleh Pemerintah Hindia Belanda pada 1828. De Javasche Bank berfungsi sebagai bank sirkulasi yang bertugas mencetak dan mengedarkan uang. Setelah Indonesia merdeka, dilakukan proses nasionalisasi terhadap De Javasche Bank. Pada 15 Desember 1951, diumumkan Undang Undang tentang nasionalisasi De Javasche Bank. Selanjutnya, pada 29 Mei 1953, Presiden mengesahkan Undang Undang Pokok Bank Indonesia dan sejak 1 Juli 1953, bangsa Indonesia memiliki sebuah bank sentral dengan nama Bank Indonesia. Undang Undang Nomor 11 tahun 1953 tentang Penetapan Undang Undang Pokok Bank Indonesia menetapkan tugas Bank Indonesia yakni menjaga stabilitas Rupia

Menikmati Keindahan Maha Karya Langkat, di Kolam Turqoise Air Terjun Namu Belanga

Untuk mendapati suguhan panorama alam nan eksotis, mungkin anda harus mencoba ke tempat wisata ini. Objek wisata di tanah melayu ini terbilang jarang diketahui para wisatawan domestik apalagi asing. Berlokasi di Desa Rumah Galoh, kecamatan Sei Bingai, kabupaten Langkat sekitar dua jam dari kota Medan, Sumatera Utara.  Desa yang terletak di jalan besar Binjai – Sei Bingai (arah Namu Ukur) dengan jarak sekitar 30 Km dari pusat Kota Binjai. Di desa ini lah yang menjadi titik awal pemberhentian menuju Namu Belanga, pengunjung yang membawa kendaraan pribadi dapat menitipkannya ke warung-warung terdekat untuk kemudian menyewa jasa pemandu. Biaya untuk jasa sewa pemandu tergantung kemampuan anda melakukan negosiasi. Satu hal yang pasti, tidak perlu sungkan karena para pemandu yang tidak lain adalah penduduk lokal, relatif ramah dan komunikatif kepada para pengunjung. Perjalanan dari Desa Rumah Galoh menuju lokasi Namu Belanga memakan waktu sekitar satu setengah jam lebih dengan berjalan