Ternyata ‘Makanan Pembentuk Basa’ sangat efektif membunuh sel-sel penyakit berbahaya. Apa itu makanan pembentuk basa? Berikut sedikit penjelasan mengenai makanan tersebut.
Lamurnya pemahaman antara ‘makan benar sehat’ dan ‘makan dianggap sehat’ turut andil dalam memperburuk lemahnya edukasi pola makan sehat manusia. Diperparah lagi dengan budaya kuliner masyarakat, yakni ‘Makan asal enak bukan makan yang berguna untuk tubuh’, sudah menjadi fenomena umum.Hipocrates, bapak kesehatan modern sudah menetapkan platform sederhana untuk menjaga kesehatan, “Let thy food be the medicine”, biarkan makananmu menjadi obat. Bergerak maju ke abad pertengahan, ada Antoine Bechamp yang pertama kali memperkenalkan konsep derajat keasam-basaan dalam memelihara kesehatan, dimana dengan memelihara PH darah agar bisa ada di level netral cenderung basa, tubuh akan sehat. Sementara saat PH darah ada di level netral namun dirongrong oleh suasana asam, penyakit akan merajalela. Bagaimana cara memeliharanya? Makanan! Masuk ke era modern, Edward Howel memperkenalkan konsep pemeliharaan enzim tubuh dengan logika yang sama juga, banyak mengkonsumsi makanan pembentuk basa.
Apa itu makanan pembentuk basa? Tuhan itu maha hebat, manusia secara alamiah dibuat sebagai mahluk condong ke vegetarian, dimana buah serta sayuran segar, adalah makanan pembentuk basa terbaik! Bukan produk obat mahal dari pabrik anu. Tapi sesuatu yang bisa didapat mudah dari alam. Segar! Bukan juga ekstrak dari produk apa atau perusahaan obat itu. Buah dan sayuran segar memiliki antioksidan yang mampu menekan radikal bebas dalam merusak sel tubuh manusia. Apa itu radikal bebas? Molekul yang kehilangan atomnya, yang membuat sel ‘rusak’ serta bersifat liar dan berpotensi merusak sel lainnya. Kondisi ini amat mudah memicu timbulnya sel penyakit berbahaya.
Lalu, kenapa penyakit berbahaya kini semakin menjamur dan menjadi fenomena pelik serta sulit diatasi? Sederhana! Kebutuhan Industri! Industri membutuhkan aktivitas masif yang membuatnya bisa hidup. Konsep preventif yang membuat penyakit tidak bisa berkembang sulit membuat industri kesehatan bisa mendapaktan aktivitas dalam jumlah besar. Bila budaya kuliner masyarakat sekarang memprioritaskan makanan yang ‘berguna untuk tubuh’ atau pemahaman ‘makan benar sehat’ yang selalu mengupayakan ‘makanan pembentuk basa’ kemungkinan besar orang sakit akan berkurang drastis jumlahnya.
Namun, Industri lebih mendukung konsep kuratif. Mengapa? Dari konsep kuratif, menyembuhkan penyakit. Ada banyak peluang untuk mendapatkan aktifitas produksi. Membuat obat, yang ragamnya bisa banyak sekali. Karena memang keperluannya banyak. Membuat alat kesehatan, yang juga ragamnya bisa banyak sekali, karena kebutuhan pasien dalam mengatasi penyakit. Dari sini perputaran uang yang ditimbulkan begitu menggiurkan dan sangat menguntungkan!
Jadi jangan heran bila pemahaman tentang penyembuhan penyakit-penyakit berbahaya seperti jalan di tempat! (Atau dibuat jalan di tempat). Sedihnya lagi, dunia kesehatan konvensional juga sangat akrab dengan konsep kuratif. Ironi lain? Menciptakan alat kesehatan canggih. Sayangnya, selain tidak berorientasi mencegah atau menyembuhkan penyakitpenyakit berbahaya, biaya pemakaian alat-alat tersebut luar biasa mahal! Otomatis biaya pengobatan pun akan mahal dan lagi-lagi industri yang akan diuntungkan.
Kelemahan lain dari pemahaman ilmu gizi yang buruk, adalah lemahnya edukasi kesehatan sejati pada masyarakat. Kesamaan antara pola makan pembentuk PH asam dan tumbuh suburnya sel penyakit berbahaya dalam tubuh manusia. Berapa banyak makanan yang beredar di masyarakat punya kecenderungan membentuk PH asam? Dengan sangat menyesal, harus disampaikan, banyak sekali! Bahkan mendominasi! Lagi-lagi peran industri komersial sangat berpengaruh disana.
Diluar itu budaya kuliner masyarakat juga turut andil dalam memperburuk lemahnya edukasi pola makan sehat manusia. Makan asal enak bukan makan yang berguna untuk tubuh, menjadi fenomena umum. Seiring perjalanan waktu, keserakahan industri dalam menciptakan temuan baru yang bisa membuat keuntungan makin tinggi juga memperburuk keadaan ini. Pemakaian hormon akselerator pertumbuhan semisal, membuat konsumsi rutin protein hewani yang sejatinya sudah buruk untuk kesehatan manusia, menjadi lebih buruk lagi.
Problem penyakit itu mirip dengan orang memadamkan api. Kalau mau apinya mau mati, ya siram dengan air. Tutup peluang api itu untuk membesar atau menyebar. Jangan malah disiram dengan bensin, hanya karena bentuknya sama cair seperti air. Atau sesekali dilempari kertas juga potongan kayu yang mudah terbakar. Matikan apinya secara total. Sama juga dengan penyakit! Hentikan mengkonsumsi segala sesuatu yang menyebabkan ia bisa berkembang!
Ekslusif makan substansi yang bisa membuat sel penyakit berbahaya tidak bisa berkembang lalu mati, paling tidak sel penyakit sulit hidup secara normal. Kemudian berpegang teguh pada pola hidup sehat, yakni mengkonsumsi makanan segar yang disediakan oleh alam! (berbagai sumber/Foto: Istimewa)

Comments
Post a Comment