Skip to main content

Kuliner ini Sudah Ada Sejak 82 Tahun Silam

Warung itu tepat berada di seberang Klenteng Eng An Kiong dan di sebelah Rumah Kematian Panca Budi, tepatnya di jalan Martadinata nomor 66 Malang. Tempatnya tak terlalu  besar, hanya berukuran sekitar 5 x 3 meter. Di atas pintu masuk hanya ada plakat nama yang dibuat dari triplek dan tulisan stensil dari cat semprot. Meski begitu, tempat ini selalu penuh dengan pelanggan. 
Dari depan, semerbak wangi aroma campuran tahu dan telur yang digoreng begitu menggoda. Ada dua jenis menu yang ditawarkan, tahu telur dan tahu saja. Pengiringnya bisa dipilih, ingin menggunakan nasi atau lontong.

Secara fisik tidak terlalu jauh berbeda dari tahu lontong pada umumnya. Dalam satu piring pasti ada kecambah, mentimun, dan kerupuk yang tidak pernah ketinggalan. Tapi, setelah bumbu kacangnya menyentuh lidah barulah terasa perbedaannya. Begitu lembut dan legit, tidak terlalu manis tapi juga tidak hambar. Proses dan penyajian menu yang cepat menjadi nilai lebih dari depot legendaris ini. Inilah mengapa Warung Tahu Lontong Lonceng tetap bertahan dari tahun 1935 hingga sekarang. Kuliner ini sangat cocok dinikmati sebagai makanan utama baik pagi, siang maupun sebagai menu makan malam.

Saat masuk warung kesan legendaris atau tempo dulu akan terasa, terlihat dari perabotan yang ada disana. Saat memilih makanan ternyata harga yang ditawarkan sangat murah untuk ukuran warung yang legendaris, bahkan harganya sama dengan harga makanan sejenis yang dijual rombong keliling. Harga setiap menu yang ditawarkan berkisar antara Rp 6.000-Rp 8.000 saja.  Nama Lonceng diadaptasi karena pada awalnya tahu lontong ini berjualan di dekat tugu lonceng, yang merupakan hadiah dari gubernur Karesidenan Belanda. Kini lonceng tersebut telah digantikan oleh tugu kecil dengan jam dinding di atasnya. (berbagai sumber/Foto: Istimewa)



Comments

Popular posts from this blog

Dari Vereniging voor de Effectenhandel hingga menjadi BEI

P asar modal tanah air dimulai dengan peresmian lantai perdagangan bursa saham di Batavia (Jakarta) pada 14 Desember 1912. Nama yang dipakai adalah Vereniging voor de Effectenhandel, cabang dari Amsterdamse Effectenbeurs—Bursa Efek Amsterdam di Belanda. Lalu seperti apa perjalanan lantai bursa saham tanah air kini? Justcoffeecopy akan memberikan sekilas perjalanan PT Bursa Efek Indonesia sekaligus pencapaiannya. Perjalanan PT Bursa Efek Indonesia diawali sejak paruh ke-2 abad 19 saat dimana Pemerintah Hindia Belanda membuka perkebunan di Indonesia. Selanjutnya pasar modal tanah air dimulai dengan peresmian lantai perdagangan bursa saham di Batavia (Jakarta) pada 14 Desember 1912. Nama yang dipakai adalah Vereniging voor de Effectenhandel, cabang dari Amsterdamse Effectenbeurs—Bursa Efek Amsterdam di Belanda. Babak baru pasar modal di Indonesia diiringi dengan pendirian Badan Pelaksana dan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) tahun 1976 melalui PP No. 25/1976 ...

Perseroan Mengoperasikan Berbagai Jenis Pesawat dan Helikopter

Perseroan yakin bahwa setiap peluang pertumbuhan yang muncul dapat Perseroan manfaatkan sebaik mungkin. Saat ini, Perseroan menyediakan berbagai layanan penerbangan berkualitas, seperti penyewaan pesawat dan helikopter, kargo udara, bengkel pemeliharaan dan jasa terkait lainnya, untuk industri minyak, gas dan pertambangan di Indonesia dan Asia Tenggara, di darat dan lepas pantai. Berikut pencapaian mengenai PerusahaanTransportasi Udara ini. PT Indonesia Transport & Infrastructure Tbk merupakan perusahaan yang bergerak di bidang usaha pengangkutan udara niaga dan jasa angkutan udara. Berdiri pada tanggal 10 September 1968 dengan nama PT Indonesia Air Transport, Perseroan yang berkantor di Jakarta Pusat ini memiliki pangkalan utama di Bandara Internasional Halim Perdanakusuma Jakarta, memiliki pangkalan kedua yang digunakan untuk melayani pelanggan perusahaan minyak dan gas dan memiliki hanggar (fasilitas perawatan pesawat), berlokasi di Bandara Internasional Sepinggan , Bali...

Golden Sunrise Di Puncak Penanggungan

Justcoffeecopy- Takbir, itu pertama kali yang diteriakkan oleh Wajer, fotografer Justcoffeecopy ketika melihat golden sunrise di puncak Gunung Penanggungan. Dari puncak gunung kami juga disuguhi pemandangan beberapa gunung yaitu gunung Arjuna dan puncak tertinggi Jawa Mahameru. "Sungguh maha karya yang tak ada bandingnya," begitu yang bisa kami ungkapkan. Pesona golden sunrise dipadu dengan keindahan suasana sekitar mengingatkan saya ketika masih kuliah di jurusan Jurnalis, tertanam dalam ingatan bahwa cahaya matahari terbaik itu ketika pukul 9 pagi. Ketika jam tersebut bangunan akan tampak lebih cantik ketika terkena matahari pagi. Tetapi semua berubah ketika kami mendaki Gunung Penanggungan. Hari itu, wisatawan manca negara mengajarkan bahwa momen matahari terbit dan matahari terbenam adalah sebuah keindahan yang worth to be seen in every place you visit. Sejak itu, momen matahari terbit dan matahari terbenam menjadi hal utama ketika kami menyusun itinerary...